ENTER

Welcome To My Website

Semue Nye Tentang Ketapang Dan Mulie Kerte.

MUSTIKE JAYE INDAH SEMPURNE

DILUPAKAN PANTANG DI LANGKAH TULAH

Ketapang Indie Label

Not Creative You Die.

The Young To Tanah Kayong

The Young To Tanah Kayong

Sabtu, 03 November 2012

TALK WITHOUT SOLUTION

"TALK WITHOUT SOLUTION"
sebuah video iklan berdurasi 51 detik ini menggambarkan tentang buruk nya kebiasaan orang indonesia yang selalu membicarakan masalah dan caci maki di sana sini tanpa memberi solusi pada masalah tersebut..
Dalam video ini memberikan pesan bahwa INDONESIA ini butuh solusi dalam masalah nya dan sebuah pergerakan jangan hanya berdiam diri saja,tak hanya masalah INDONESIA,dalam masalah kehidupan sehari-hari juga kita jangan berdiam diri dan tanpa memberi solusi pada masalah nya.
video karya ketapang indie label ini sempat jadi finalis di Pinasthika award 2012 creativestival dan menjadi nominasi di category young film director, tapi sayang belum beruntung untuk mengangkat piala pada awarding night itu :') (ya mungkin laen kali)
Video ini di direct oleh teman saya Ade Dwi Putra Bintarto dan CopyWriter nya adalah Gusti Dani Yusmiri :)
semoga video ini bisa menginspirasi kalian.

"Berbicara tanpa solusi itu percuma,INDONESIA butuh solusi dan suatu pergerakan"

Rabu, 31 Oktober 2012

Hari Jadi Kabupaten Ketapang

     TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG - Ketua DPRD Ketapang Kalimantan Barat Gusti Kamboja mengatakan, ditetapkannya hari jadi Ketapang secara bersamaa oleh DPRD dan Pemkab Ketapang, merupakan indikasi pemerintah daerah pada diskursus tentang eksistensi sebuah peradaban dan sejarah sosialnya. "Penetapan hari jadi Ketapang tidak hanya melahirkan kepastian sejarah lokal tetapi juga social kewajaran sejarah, dan lebih dari itu memunculkan semacam kepercayaan dari masyarakat Ketapang dengan identitas lokalnya," kata Gusti Kamboja Selasa (30/10/2012). Pada proses pencarian kepastian sejarah telah banyak pihak yang melibatkan diri, mulai dari pemerintah, pemerhati kebudayaan, sejarawan, akademisi, tokoh masyarakat dan berbagai pihak lainnya. Beberapa kegiatan pun telah dilakukan mulai, dari diskusi, seminar dengar pendapat. Dukungan ini telah diberikan kepada para pihak, mulai dari tokoh masyarakat, seluruh anggota DPRD Ketapang dan bupati. "Dalam penetapan hari jadi kota Ketapang, didasarkan pada prasasti nisan, Makam Keramat Sembilan di Negeri Baru yang beratrikh pada tahun 1340 Saka atau 1418 masehi, dan merupakan prasasti sejarah tertua yang ditemukan di Kalimantan Barat." Katanya. 

sumber : http://pontianak.tribunnews.com/2012/10/30/hari-jadi-ketapang-ditetapkan-11-maret-1418

Kamis, 10 Mei 2012

KIL Company Commercial

Minggu, 22 April 2012

Tanjungpura Mulia Kerta: Nasib Istana Panembahan Matan

    Istana Panembahan Matan di Mulia Kerta Ketapang merupakan salah satu istana era Kerajaan Melayu Islam yang tersisa di Kalimantan Barat.

   Berdasarkan jejak sejarahnya, Istana Panembahan Matan merupakan pusat pemerintahan dari Kerajaan Matan-Tanjungpura yang sebenarnya kelanjutan dari Kerajaan Tanjungpura dari era Hindu yang pernah mempunyai nama besar di seantero Kalimantan.

   Secara periodik, Kerajaan Matan-Tanjungpura yang berpusat di Mulia Kerta adalah kelanjutan dari Kerajaan Tanjungpura. Bermula di Sukadana Kabupaten Kayong Utara (KKU), Tanjungpura menuliskan peradabannya, sepanjang sejarah Tanjungpura yang berjalan semenjak kira-kira tahun 1431 M, sampai dengan tahun 1724 M, dengan Sukadana menjadi pusat pemerintahannya.

   Ketika kerajaan Pontianak berdiri sebagai kota pelabuhan, Sukadana merupakan bandar pelabuhan perdagangan yang menjadi saingan sehingga perlu ditaklukan oleh Pontianak. Sehingga pada tahun 1876 terjadi Perang Sukadana dengan Pontianak.

   Dalam perang ini Sukadana mengalami kekalahan, akhirnya pelabuhan dagang Sukadana ditutup. Sultan Akhmad Kamaludin memindahkan pusat pemerintahannya dari Sukadana ke Matan kemudian menghulu memindahkan pusat pemerintahan ke Indra Laya (Kecamatan Sandai), selanjutnya berpindah ke Karta Pura, Tanah Merah (Kecamatan Nanga Tayap).

   Menghilir lagi ke sungai pawan dan mendirikan lagi pusat kerajaan di Desa Tanjungpura (masih di daerah Kabupaten Ketapang), lantas terakhir memusatkan pemerintahannya di Mulia Kerta sejak zaman Panembahan Gusti Muhammad Sabran sampai berakhir pada zaman pemerintahan Panembahan Gusti Muhammad Saunan.

   Sebagai Kabupaten yang memiliki banyak jejak-jejak sejarah peradaban masa silam, sisa-sisa sejarah yang masih dapat ditemui di Ketapang selain Istana Panembahan Matan-Tanjungpura, di antaranya adalah Makam Keramat Sembilan di Desa Tanjungpura dan Makam Keramat Tujuh di Mulia Kerta, serta berbagai peninggalan lain seperti makam-makam dan reruntuhan bangunan kuno di Kecamatan Sandai dan Nanga Tayap.

   Istana Panembahan terakhir dipergunakan sebagai pusat pemerintahan kerajaan pada zaman Panembahan Gusti Muhammad Saunan, dan menurut berbagai sumber, Panembahan terakhir inilah yang juga mendesain arsitektur Istana yang bentuknya masih dapat terlihat sampai sekarang ini.

   Panembahan yang tidak meninggalkan keturunan ini menghilang dengan berbagai versi, ada yang mengatakan hilang karena turut menjadi salah satu korban pembantaian Jepang/Jepun pada tahun 1943 (pembantaian kaum cerdik-cendikia dan tokoh masyarakat Kalbar yang disebut juga dengan peristiwa penyungkupan).

   Namun legenda masyarakat setempat menyatakan Panembahan ini luput dari tragedi tersebut, dan menghilang secara misterius tidak ketahuan rimbanya.

   Sebetulnya, ketika Matan-Tanjungpura berubah menjadi swapraja, Istana ini masih berfungsi ketika dipimpin secara kolektif oleh Majelis Swapraja yang terdiri dari tiga orang kerabat dekat kerajaan bergelar Uti, yakni Uti Aplah bergelar Pangeran Adipati, Uti Kencana bergelar Pangeran Anom Laksmana, dan Uti Halil bergelar Pangeran Mangku Negara. (sumber: Sejarah Ringkas Kerajaan Tanjungpura).

   Seiring perjalanan waktu, Istana yang seharusnya menjadi icon daerah Ketapang ini diubah menjadi Museum oleh Pemerintah Kabupaten setempat. Sebenarnya besar harapan ketika status ini berubah, maka perhatian Pemkab menjadi lebih baik terhadap peninggalan sejarah ini, karena di seantero Ketapang-KKU, tinggal Istana inilah satu-satunya yang tersisa, karena Istana Raja Simpang (Trah Tanjungpura) di Melano Kecamatan Simpang Hilir-KKU telah lama tinggal tunggul.

   Begitupun Istana Raja Sukadana Baru (pasca berpindahnya Tanjungpura) yakni Istana Raja keturunan Tengku Akil Abdul Jalil Dipertuansyah (Keturunan Siak) juga telah runtuh tinggal nama.

   Apalagi di dalam Istana tersebut terdapat berbagai barang-barang peninggalan Para Panembahan Matan-Tanjungpura seperti meriam, termasuk meriam beranak, mesin jahit, berbagai jenis kain, kamar tidur, senjata, dan masih banyak lagi peninggalan lainnya.

   Jika dikelola dengan baik dan dipromosikan apalagi menjadi tempat pusat pengembangan, pembinaan adat dan seni-budaya. Maka Istana ini akan berdayaguna dan tentunya akan terpelihara, lebih-lebih lagi peran sentralnya sebagai penjaga adat dan seni-budaya Melayu Kayong direvitalisasi.

   Secara arsitektur pun, istana ini amatlah menarik, dan sebagai cerminan kekayaan arsitektur Melayu Kayong. Namun begitulah, yang terlihat istana ini begitu tampak tak terawat, catnya sudah tampak kusam, dinding istananya juga sudah mulai ada yang keropos dan lapuk.

   Saya menyimpulkan bahwa situs peninggalan sejarah ini tidak dikembangkan potensinya sebagai bagian dari icon pelancongan yang menghasilkan bagi daerah. Jadi bingung dan miris melihatnya, dan muncul pertanyaan di benak saya, apakah memang Pemkab sudah tidak memiliki perasaan untuk memelihara, menjaga dan melestarikan atau bahkan mungkin tiada kebanggaan terhadap sejarah dan peninggalan sejarah daerahnya. Mudah-mudahan tidak begitu adanya!



Sumber: rudy handoko, http://vivanews.com/

È