Istana Panembahan Matan di Mulia Kerta Ketapang merupakan salah satu
istana era Kerajaan Melayu Islam yang tersisa di Kalimantan Barat.
Berdasarkan
jejak sejarahnya, Istana Panembahan Matan merupakan pusat pemerintahan
dari Kerajaan Matan-Tanjungpura yang sebenarnya kelanjutan dari Kerajaan
Tanjungpura dari era Hindu yang pernah mempunyai nama besar di seantero
Kalimantan.
Secara periodik, Kerajaan Matan-Tanjungpura yang
berpusat di Mulia Kerta adalah kelanjutan dari Kerajaan Tanjungpura.
Bermula di Sukadana Kabupaten Kayong Utara (KKU), Tanjungpura menuliskan
peradabannya, sepanjang sejarah Tanjungpura yang berjalan semenjak
kira-kira tahun 1431 M, sampai dengan tahun 1724 M, dengan Sukadana
menjadi pusat pemerintahannya.
Ketika kerajaan Pontianak berdiri
sebagai kota pelabuhan, Sukadana merupakan bandar pelabuhan perdagangan
yang menjadi saingan sehingga perlu ditaklukan oleh Pontianak. Sehingga
pada tahun 1876 terjadi Perang Sukadana dengan Pontianak.
Dalam
perang ini Sukadana mengalami kekalahan, akhirnya pelabuhan dagang
Sukadana ditutup. Sultan Akhmad Kamaludin memindahkan pusat
pemerintahannya dari Sukadana ke Matan kemudian menghulu memindahkan
pusat pemerintahan ke Indra Laya (Kecamatan Sandai), selanjutnya
berpindah ke Karta Pura, Tanah Merah (Kecamatan Nanga Tayap).
Menghilir
lagi ke sungai pawan dan mendirikan lagi pusat kerajaan di Desa
Tanjungpura (masih di daerah Kabupaten Ketapang), lantas terakhir
memusatkan pemerintahannya di Mulia Kerta sejak zaman Panembahan Gusti
Muhammad Sabran sampai berakhir pada zaman pemerintahan Panembahan Gusti
Muhammad Saunan.
Sebagai Kabupaten yang memiliki banyak
jejak-jejak sejarah peradaban masa silam, sisa-sisa sejarah yang masih
dapat ditemui di Ketapang selain Istana Panembahan Matan-Tanjungpura, di
antaranya adalah Makam Keramat Sembilan di Desa Tanjungpura dan Makam
Keramat Tujuh di Mulia Kerta, serta berbagai peninggalan lain seperti
makam-makam dan reruntuhan bangunan kuno di Kecamatan Sandai dan Nanga
Tayap.
Istana Panembahan terakhir dipergunakan sebagai pusat
pemerintahan kerajaan pada zaman Panembahan Gusti Muhammad Saunan, dan
menurut berbagai sumber, Panembahan terakhir inilah yang juga mendesain
arsitektur Istana yang bentuknya masih dapat terlihat sampai sekarang
ini.
Panembahan yang tidak meninggalkan keturunan ini menghilang
dengan berbagai versi, ada yang mengatakan hilang karena turut menjadi
salah satu korban pembantaian Jepang/Jepun pada tahun 1943 (pembantaian
kaum cerdik-cendikia dan tokoh masyarakat Kalbar yang disebut juga
dengan peristiwa penyungkupan).
Namun legenda
masyarakat setempat menyatakan Panembahan ini luput dari tragedi
tersebut, dan menghilang secara misterius tidak ketahuan rimbanya.
Sebetulnya,
ketika Matan-Tanjungpura berubah menjadi swapraja, Istana ini masih
berfungsi ketika dipimpin secara kolektif oleh Majelis Swapraja yang
terdiri dari tiga orang kerabat dekat kerajaan bergelar Uti, yakni Uti
Aplah bergelar Pangeran Adipati, Uti Kencana bergelar Pangeran Anom
Laksmana, dan Uti Halil bergelar Pangeran Mangku Negara. (sumber:
Sejarah Ringkas Kerajaan Tanjungpura).
Seiring perjalanan waktu,
Istana yang seharusnya menjadi icon daerah Ketapang ini diubah menjadi
Museum oleh Pemerintah Kabupaten setempat. Sebenarnya besar harapan
ketika status ini berubah, maka perhatian Pemkab menjadi lebih baik
terhadap peninggalan sejarah ini, karena di seantero Ketapang-KKU,
tinggal Istana inilah satu-satunya yang tersisa, karena Istana Raja
Simpang (Trah Tanjungpura) di Melano Kecamatan Simpang Hilir-KKU telah
lama tinggal tunggul.
Begitupun Istana Raja Sukadana Baru (pasca
berpindahnya Tanjungpura) yakni Istana Raja keturunan Tengku Akil Abdul
Jalil Dipertuansyah (Keturunan Siak) juga telah runtuh tinggal nama.
Apalagi
di dalam Istana tersebut terdapat berbagai barang-barang peninggalan
Para Panembahan Matan-Tanjungpura seperti meriam, termasuk meriam
beranak, mesin jahit, berbagai jenis kain, kamar tidur, senjata, dan
masih banyak lagi peninggalan lainnya.
Jika dikelola dengan baik
dan dipromosikan apalagi menjadi tempat pusat pengembangan, pembinaan
adat dan seni-budaya. Maka Istana ini akan berdayaguna dan tentunya akan
terpelihara, lebih-lebih lagi peran sentralnya sebagai penjaga adat dan
seni-budaya Melayu Kayong direvitalisasi.
Secara arsitektur
pun, istana ini amatlah menarik, dan sebagai cerminan kekayaan
arsitektur Melayu Kayong. Namun begitulah, yang terlihat istana ini
begitu tampak tak terawat, catnya sudah tampak kusam, dinding istananya
juga sudah mulai ada yang keropos dan lapuk.
Saya menyimpulkan
bahwa situs peninggalan sejarah ini tidak dikembangkan potensinya
sebagai bagian dari icon pelancongan yang menghasilkan bagi daerah. Jadi
bingung dan miris melihatnya, dan muncul pertanyaan di benak saya,
apakah memang Pemkab sudah tidak memiliki perasaan untuk memelihara,
menjaga dan melestarikan atau bahkan mungkin tiada kebanggaan terhadap
sejarah dan peninggalan sejarah daerahnya. Mudah-mudahan tidak begitu
adanya!
Sumber: rudy handoko, http://vivanews.com/
0 komentar:
Posting Komentar