ENTER

Welcome To My Website

Semue Nye Tentang Ketapang Dan Mulie Kerte.

MUSTIKE JAYE INDAH SEMPURNE

DILUPAKAN PANTANG DI LANGKAH TULAH

Ketapang Indie Label

Not Creative You Die.

The Young To Tanah Kayong

The Young To Tanah Kayong

Sabtu, 03 November 2012

TALK WITHOUT SOLUTION

"TALK WITHOUT SOLUTION"
sebuah video iklan berdurasi 51 detik ini menggambarkan tentang buruk nya kebiasaan orang indonesia yang selalu membicarakan masalah dan caci maki di sana sini tanpa memberi solusi pada masalah tersebut..
Dalam video ini memberikan pesan bahwa INDONESIA ini butuh solusi dalam masalah nya dan sebuah pergerakan jangan hanya berdiam diri saja,tak hanya masalah INDONESIA,dalam masalah kehidupan sehari-hari juga kita jangan berdiam diri dan tanpa memberi solusi pada masalah nya.
video karya ketapang indie label ini sempat jadi finalis di Pinasthika award 2012 creativestival dan menjadi nominasi di category young film director, tapi sayang belum beruntung untuk mengangkat piala pada awarding night itu :') (ya mungkin laen kali)
Video ini di direct oleh teman saya Ade Dwi Putra Bintarto dan CopyWriter nya adalah Gusti Dani Yusmiri :)
semoga video ini bisa menginspirasi kalian.

"Berbicara tanpa solusi itu percuma,INDONESIA butuh solusi dan suatu pergerakan"

Rabu, 31 Oktober 2012

Hari Jadi Kabupaten Ketapang

     TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG - Ketua DPRD Ketapang Kalimantan Barat Gusti Kamboja mengatakan, ditetapkannya hari jadi Ketapang secara bersamaa oleh DPRD dan Pemkab Ketapang, merupakan indikasi pemerintah daerah pada diskursus tentang eksistensi sebuah peradaban dan sejarah sosialnya. "Penetapan hari jadi Ketapang tidak hanya melahirkan kepastian sejarah lokal tetapi juga social kewajaran sejarah, dan lebih dari itu memunculkan semacam kepercayaan dari masyarakat Ketapang dengan identitas lokalnya," kata Gusti Kamboja Selasa (30/10/2012). Pada proses pencarian kepastian sejarah telah banyak pihak yang melibatkan diri, mulai dari pemerintah, pemerhati kebudayaan, sejarawan, akademisi, tokoh masyarakat dan berbagai pihak lainnya. Beberapa kegiatan pun telah dilakukan mulai, dari diskusi, seminar dengar pendapat. Dukungan ini telah diberikan kepada para pihak, mulai dari tokoh masyarakat, seluruh anggota DPRD Ketapang dan bupati. "Dalam penetapan hari jadi kota Ketapang, didasarkan pada prasasti nisan, Makam Keramat Sembilan di Negeri Baru yang beratrikh pada tahun 1340 Saka atau 1418 masehi, dan merupakan prasasti sejarah tertua yang ditemukan di Kalimantan Barat." Katanya. 

sumber : http://pontianak.tribunnews.com/2012/10/30/hari-jadi-ketapang-ditetapkan-11-maret-1418

Kamis, 10 Mei 2012

KIL Company Commercial

Minggu, 22 April 2012

Tanjungpura Mulia Kerta: Nasib Istana Panembahan Matan

    Istana Panembahan Matan di Mulia Kerta Ketapang merupakan salah satu istana era Kerajaan Melayu Islam yang tersisa di Kalimantan Barat.

   Berdasarkan jejak sejarahnya, Istana Panembahan Matan merupakan pusat pemerintahan dari Kerajaan Matan-Tanjungpura yang sebenarnya kelanjutan dari Kerajaan Tanjungpura dari era Hindu yang pernah mempunyai nama besar di seantero Kalimantan.

   Secara periodik, Kerajaan Matan-Tanjungpura yang berpusat di Mulia Kerta adalah kelanjutan dari Kerajaan Tanjungpura. Bermula di Sukadana Kabupaten Kayong Utara (KKU), Tanjungpura menuliskan peradabannya, sepanjang sejarah Tanjungpura yang berjalan semenjak kira-kira tahun 1431 M, sampai dengan tahun 1724 M, dengan Sukadana menjadi pusat pemerintahannya.

   Ketika kerajaan Pontianak berdiri sebagai kota pelabuhan, Sukadana merupakan bandar pelabuhan perdagangan yang menjadi saingan sehingga perlu ditaklukan oleh Pontianak. Sehingga pada tahun 1876 terjadi Perang Sukadana dengan Pontianak.

   Dalam perang ini Sukadana mengalami kekalahan, akhirnya pelabuhan dagang Sukadana ditutup. Sultan Akhmad Kamaludin memindahkan pusat pemerintahannya dari Sukadana ke Matan kemudian menghulu memindahkan pusat pemerintahan ke Indra Laya (Kecamatan Sandai), selanjutnya berpindah ke Karta Pura, Tanah Merah (Kecamatan Nanga Tayap).

   Menghilir lagi ke sungai pawan dan mendirikan lagi pusat kerajaan di Desa Tanjungpura (masih di daerah Kabupaten Ketapang), lantas terakhir memusatkan pemerintahannya di Mulia Kerta sejak zaman Panembahan Gusti Muhammad Sabran sampai berakhir pada zaman pemerintahan Panembahan Gusti Muhammad Saunan.

   Sebagai Kabupaten yang memiliki banyak jejak-jejak sejarah peradaban masa silam, sisa-sisa sejarah yang masih dapat ditemui di Ketapang selain Istana Panembahan Matan-Tanjungpura, di antaranya adalah Makam Keramat Sembilan di Desa Tanjungpura dan Makam Keramat Tujuh di Mulia Kerta, serta berbagai peninggalan lain seperti makam-makam dan reruntuhan bangunan kuno di Kecamatan Sandai dan Nanga Tayap.

   Istana Panembahan terakhir dipergunakan sebagai pusat pemerintahan kerajaan pada zaman Panembahan Gusti Muhammad Saunan, dan menurut berbagai sumber, Panembahan terakhir inilah yang juga mendesain arsitektur Istana yang bentuknya masih dapat terlihat sampai sekarang ini.

   Panembahan yang tidak meninggalkan keturunan ini menghilang dengan berbagai versi, ada yang mengatakan hilang karena turut menjadi salah satu korban pembantaian Jepang/Jepun pada tahun 1943 (pembantaian kaum cerdik-cendikia dan tokoh masyarakat Kalbar yang disebut juga dengan peristiwa penyungkupan).

   Namun legenda masyarakat setempat menyatakan Panembahan ini luput dari tragedi tersebut, dan menghilang secara misterius tidak ketahuan rimbanya.

   Sebetulnya, ketika Matan-Tanjungpura berubah menjadi swapraja, Istana ini masih berfungsi ketika dipimpin secara kolektif oleh Majelis Swapraja yang terdiri dari tiga orang kerabat dekat kerajaan bergelar Uti, yakni Uti Aplah bergelar Pangeran Adipati, Uti Kencana bergelar Pangeran Anom Laksmana, dan Uti Halil bergelar Pangeran Mangku Negara. (sumber: Sejarah Ringkas Kerajaan Tanjungpura).

   Seiring perjalanan waktu, Istana yang seharusnya menjadi icon daerah Ketapang ini diubah menjadi Museum oleh Pemerintah Kabupaten setempat. Sebenarnya besar harapan ketika status ini berubah, maka perhatian Pemkab menjadi lebih baik terhadap peninggalan sejarah ini, karena di seantero Ketapang-KKU, tinggal Istana inilah satu-satunya yang tersisa, karena Istana Raja Simpang (Trah Tanjungpura) di Melano Kecamatan Simpang Hilir-KKU telah lama tinggal tunggul.

   Begitupun Istana Raja Sukadana Baru (pasca berpindahnya Tanjungpura) yakni Istana Raja keturunan Tengku Akil Abdul Jalil Dipertuansyah (Keturunan Siak) juga telah runtuh tinggal nama.

   Apalagi di dalam Istana tersebut terdapat berbagai barang-barang peninggalan Para Panembahan Matan-Tanjungpura seperti meriam, termasuk meriam beranak, mesin jahit, berbagai jenis kain, kamar tidur, senjata, dan masih banyak lagi peninggalan lainnya.

   Jika dikelola dengan baik dan dipromosikan apalagi menjadi tempat pusat pengembangan, pembinaan adat dan seni-budaya. Maka Istana ini akan berdayaguna dan tentunya akan terpelihara, lebih-lebih lagi peran sentralnya sebagai penjaga adat dan seni-budaya Melayu Kayong direvitalisasi.

   Secara arsitektur pun, istana ini amatlah menarik, dan sebagai cerminan kekayaan arsitektur Melayu Kayong. Namun begitulah, yang terlihat istana ini begitu tampak tak terawat, catnya sudah tampak kusam, dinding istananya juga sudah mulai ada yang keropos dan lapuk.

   Saya menyimpulkan bahwa situs peninggalan sejarah ini tidak dikembangkan potensinya sebagai bagian dari icon pelancongan yang menghasilkan bagi daerah. Jadi bingung dan miris melihatnya, dan muncul pertanyaan di benak saya, apakah memang Pemkab sudah tidak memiliki perasaan untuk memelihara, menjaga dan melestarikan atau bahkan mungkin tiada kebanggaan terhadap sejarah dan peninggalan sejarah daerahnya. Mudah-mudahan tidak begitu adanya!



Sumber: rudy handoko, http://vivanews.com/

Sabtu, 03 Maret 2012

THIS IS KETAPANG by KIL Company (Ketapang Indie Label)

 Video ini dibuat oleh Komunitas Ketapang Indie label (Kil company) yang berdasarkan pendapat mahasiswa – mahasiswa ketapang yang berada di Yogyakarta. Video ini bertujuan agar mahasiswa – mahasiswa sadar untuk memajukan ketapang, sekaligus untuk kritik dan saran kepada Pemerintah Kab. Ketapang (kal-bar).



Semoga Video ini bisa membikin inspirasi untuk memajukan Ketapang (kal-bar).
Ini pendapat kami,,,apa pendapat kalian!!!

Jumat, 02 Maret 2012

Syair Gulung

   Syaer gulong (Syair Bergulung) adalah merupakan suatu kebudayaan yang tetap lestari di Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat. Bagi orang-orang Melayu Ketapang yang paham betul tentang adat istiadat budaya Ketapang maka dalam menggelar acara Pernikahan, Sunnatan (Berkhitan), ataupun ketika menyambuat kedatangan para tamu kehormatan oleh kalangan birokrasi dan pemerintahan akan senantisa disuguhkan penampilan syaer gulong tersebut.
   Isi dari syaer gulung tentulah tergantung pada acara serta keadaan dan kondisi yang hendak disampaikan. Isi dari syaer gulong sangatlah khas, berirama dengan sajak aa, dengan maksud pada akhiranya sama. Dalam menampilkanya tidaklah mesti memfokuskan pada keindahan suara. Karena jika demikian tentulah para penyanyi dan seorang yang qori dalam kemahiran membaca Al-qur'an dengan berlagu tentu lebih bagus lagi. Namun tidaklah banyak orang-orang yang pandai menyanyi serta mengajinya dengan suara merdu bisa mahir dalam hal menampilkan syaer gulung. 
   Banyak kemampuan yang bisa dioptimalkan dengan mempunyai hobi dalam bersyaer gulong, baik itu kemampuan berimajinasi maupun kemampuan dalam hal menyampaikannya. Banyak hal yang dapat disamapaikan pula melalui media syaer gulong bagi oarang-orang Melayu Ketapang, baik yang sifatnya kritikan, tuntutan akan hak-hak dan kewaijaban serta pemberian nasehat-nasehat kepada semua kalangan. Semua tersampaikan tanpa mesti berdemo atau berunjuk rasa dan anarkis. salah satu resep utama bagi masyarakat Melayu Ketapang dalam keharomisan menjaga hubungan dengan suku-suku dan gama lain adalah dengan tetap belajar bagaimana pendahulu-pendahulunya orang Melayu Ketapang memberi contoh akan estetika yang ramah dalam menyampaiakan sesuatu melalui sayer gulongnya.(Zn)
 sumber : http://zunaidituan-tuansyairgulung.blogspot.com/p/salam-melayu.html

Rabu, 29 Februari 2012

Keistimewaan Istana Mulia Kerta



Keanggunan istana yang mayoritas konstruksi bangunannya terbuat dari kayu belian/ulin (euderoxylon zwageri) ini sudah dapat dilihat dan di rasakan dari jauh. Warna kuning yang mendominasi bangunannya menjadikan istana tersebut kian anggun dipandang mata. Dalam tradisi masyarakat Melayu, Warna kuning merupakan lambang kewibawaan dan keluhuran budi pekerti.
                
             Gapuranya yang artistic dan cantik dengan dominasi warna kuning seakan memberi tanda kepada pengunjung, bahwa istana ini di bangun dengan konsep yang matang dan melalui serentetan perenungan yang mendalam,sehingga istana ini sarat dengan makna filosofis. Gapura tersebut juga merupakan symbol keramahan segenap penghuni istana dan sekaligus menandakan bahwa istana tersebut terbuka bagi semua kalangan. 

                Suasana sejuk dan damai sudah terasa begitu menginjakkan kaki di kompleks istana. Bunga-bunga  yang tertata rapi dalam jambangan dan aneka pohon yang tumbuh di sekeliling istana memperlihatkan penghuninya punya komitmen hidup selaras dengan alam.

                Di sebelah kiri jalan masuk, terdapat sebuah menara yang dahulunya berfungsi sebagai pos penjagaan istana. Meriam padam pelita, salah satu senjata peninggalan kesultanan, terdapat di halaman istana. Pada bumbungan atap bagian depan istana, terpampang mahkota kerajaan yang berukiran detail dan artistic.

                Di ruangan dalam istana, terdapat balai pertemuan (balairung), kantor tempat kerja sultan, dan tiga kamar yang dahulunya digunakan sebagai tempat tinggal sultan bersama keluarganya. Berbagai koleksi istana, seperti singgasana sultan dan permaisurinya, foto sultan dan keluarganya, kain tenun khas kerajaan, tempat tidur Panembahan Gusti Muhammad Saunan, aneka batik kuno, serta benda-benda dan peralatan peniggalan kesultanan Tanjungpura lainnya, tersimpan dengan baik di dalam Istana.

                Pada sore hari, pengunjung akan berdecak kagum dengan pesona Istana Mulia Kerta yang eksotik, apalagi dilihat dari atas perahu yang berjalan perlahan-perlahan di atasi Sungai Pawan yang tenang

Tempat Wisata Di Kabupaten Ketapang


PULAU SAWI



Objek wisata Pantai Pulau Sawi adalah merupakan objek wisata yang berada di Desa Sungai Tengar Kecamatan Kendawangan Ketapang, jaraknya kurang lebih 80 km dari Kota Ketapang. Akses dari Kota Ketapang ke obyek wisata pantai pulau sawi ini dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua maupun roda empat.

Dari Sungai Tengar perjalanan dilanjutkan dengan kendaraan air atau motor klotok milik nelayan menelusuri pantai Sungai Tengar. memakan waktu Kurang lebih 1 jam perjalanan, tibalah di Pulau Sawi.Perjalanan di Pulau Sawi sungguh sangat mengasyikan.

Selain panorama alam yang indah, tempat ini juga merupakan tempat habitat penyu. Aneka jenis penyu seperti penyu belimbing, penyu hijau, penyu sisik dan totong banyak terdapat dikawasan ini.Pasir putih membentang, air laut berwarna biru gemerlap. Sangat wajar bila kemudian Pulau ini dijuluki Pulau Bidadari.
aktivitas kehidupan sehari-hari masyarakat di Pulau Sawi Kendawangan yang bekerja sebagai nelayan,ternyata pulau tersebut juga menyimpan banyak pesona. “Keindahan pantainya yang jernih dengan pasir pantai yang putih bersihdan hamparan batu karang membuat takjub pandangan mata seakan tak ingin melepaskan pandangan, disamping itu kawasan ini juga kaya dengan berbagai jenis ikan,” ujarnya

PANTAI AIR MATA PERMAI



Objek Wisata Pantai Air Mata Permai yang berada di Desa Sungai Awan Kanan kabupaten Ketapang Kalimantan Barat,Pantai Air Mata Permai merupakan salah satu pantai yang sangat indah di Ketapang. 

Selain hamparan pasir putihnya, vegetasi flora dan fauna yang terdapat di pantai tersebut juga sangat menarik bagi para pengunjung. Vegetasi hutan bakau (Rhizophora sp, Bruiguera sp,) masih cukup terpelihara dengan habitat burung pantai yang sangat eksotik. Lokasi Pantai Air Mata Permai ini terletak 10 km dari Kota Ketapang. Pantai Air Mata Permai ini dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua dan roda empat dengan waktu tempuh kurang lebih sekitara 10 menit. 

Obyek wisata Pantai Air Mata Permai yang luasnya mencapai 100 hektar ini didominasi oleh hutan mangrove yang masih lengkap dan merupakan tempat pengamatan bagi satwa burung. Ada sekitar 27 jenis burung yang ditemukan sekitar pantai Air Mata Permai ini, antara lain butorides satriatus, haliastur indus, haliaetus leucogaster, numenius arquata, numenius phaeopus, tringa cinereus, tringa hypoleucos, streptopelia chinensis, pelargopsis capensis dan lain-lain. Selain berekreasi, di pantai Air Mata Permai ini pengunjung dapat melakukan berbagai aktifitas lainnya seperti olah raga pantai, camping, out bound dan menyaksikan saat mata hari terbenam.

PANTAI TANJUNG BELANDANG


Objek wisata Pantai Tanjung Belandang merupakan salah satu obyek wisata yang terdekat dengan Kota Ketapang yang berjarak hanya sekitar 12 km dari pusat Kota Ketapang Kalimantan Barat.kurang lebih dengan jarak tempuh 20 menit sudah sampai ke pantai tersebut.

Obyek Wisata Pantai Tanjung Belandang ini dapat dicapai dengan kendaraan bermotor roda dua maupun roda empat. Lokasi objek wisata Pantai Tanjung Belandang ini sangat luas, sehingga sering digunakan sebagai tempat camping para pelajar dan pramuka, selain itu juga digunakan sebagai arena lomba balap motor grasstrack, olahraga pantai, sepeda air dan rekreasi lainnya bagi masyarakat umum. 

Di sekitar Pantai Tanjung Belandang juga tersedia peralatan wisata outbound seperti Bambu Miring, Flying Fox, Jaring Tali, Jembatan Egrang, Jembatan Gantung, Jembatan Tarzan, Lorong Tikus dan Tangga Warna, dan juga kolam renang yang sering di kunjungi warga kota ketapang setiap hari liburnya.Pantai Tanjung Belandang sangat cocok buat wisata akhir pekan bersama keluarga.

PANTAI TANJUNG DAMBUS/PULAU SEMPADI


Objek Wisata Pantai Tanjung Dambus/Pulau Sempadi berada di Desa Kuala Tolak Kecamatan Matan Hilir Utara Ketapang Kalimantan Barat yang mempunyai Jarak Tempuh sekitar 60 Km dari Kota Ketapang.untuk menuju Pantai Tanjung Dampus dapat menggunakan Kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat, kemudian dilanjutkan dengan kapal klotok/motor air menuju gugusan pantai Tanjung Dampus dengan Waktu Tempuh sekitar 90 menit melalui jalan daratan, dan ditambah 30 menit melauli jalan perairan.pantai tanjung dampus mempunyai luas sekitar 100 Ha.

Banyak Fasilitas yang dimiliki pantai tanjung dampus,dan bila wisatawan berada di pantai tanjung dampu,wisatawan dapat melakukan kegiatan seperti:melihat Sunset, bird watching, tracking, berenang, penelitian alam, out bond, snorkel, memancing, camping, selancar/berlayar. Keunikan yang dimiliki pantai tanjung dampus adalah,pantai yang Masih alami dan masih banyaknya burung-burung endemik, serta tumbuh-tumbuhan langka yang menghuni kawasan ini, juga sebagai tempat wisata kuliner jika musim durian tiba. Terletak di muara sungai Kuala Tolak, dan dapat ditempuh hanya 30 menit dengan kapal klotok/motor air, sehingga cocok untuk wisatawan yang senang berpetualang.


Selasa, 28 Februari 2012

Sejarah Kabupaten Ketapang



Dalam Atlas Sejarah yang disusun oleh Muhammad Yamin (1965) untuk mengidentifikasi Nusantara Raya menurut Mpu Prapanca di dalam naskah Nagarakertagama, wilayah geografi kota Ketapang saat ini diberi nama Tandjungpura. Kemudian dalam peta pada masa kesultanan Riau-Johor (Harun : 2003), wilayah kota Ketapang dinamai Matan. 

        Perubahan nama wilayah geografis dari Tanjung Pura menjadi Matan dan kemudian Ketapang, tidak diketahui dengan pasti karena tidak ada catatan sejarah atau prasasti yang menunjukkan peristiwa itu. Namun perubahan nama tempat atau kota pada masa kerajaan diduga akibat perubahan letak kerajaan atau berubahnya raja yang berkuasa ditempat itu akibat suatu peristiwa tertentu (perang, bencana alam dan keputusan raja). 

       Kepastian sejarah mengenai berdirinya Kota Ketapang hingga saat ini masih samar. Namun dapat dikatakan bahwa Kota Ketapang merupakan salah satu kota tertua di wilayah Kalimantan Barat yang dibuktikan dengan keberadaan Kerajaan Tanjungpura - Matan di wilayah Kota Ketapang yang merupakan kerajaan tertua di Kalimantan Barat. Dugaan itu setidaknya didasarkan beberapa kronik Cina, Nagarakertagama, prasasti Waringin Pitu dan penelitian para ahli linguistik di kepulauan Indo-Malaya. 

       Dalam kronik Cina Chu Fan Chi yang dibuat oleh Chau Ju Kwa tahun 1225 M, Tanjungpura disebut dengan nama Tan-jung-wu-lo, dikatakan bahwa daerah ini sekitar tahun 1200 M merupakan jajahan raja Jawa. Periode sezaman dengan tarikh kronik ini, di Jawa berkuasa Raja Jenggala - Kediri terakhir yaitu Sri Jayawarsa/Kertajaya (1190 - 1205 M) serta merupakan periode pertama berdirinya kerajaan Singasari dengan rajanya yaitu Sri Ranggah Rajasa/Ken Arok (1222 - 1227 M). Maka apabila menggunakan tarikh dalam kronik Cina ini, Tanjungpura baik sebagai kerajaan maupun sebagai kota sudah berdiri pada sebelum tahun 1200 M. Namun letak wilayah geografisnya sulit ditentukan apakah dalam batasan "Kota Ketapang". 

      Chau Ju Kwa adalah seorang pedagang yang kemungkinan singgah di kota Tan Jung Wu Lo yang terletak di tepi pantai atau di dekat sungai. Sebagai pedagang antar negara, "perahu" yang dibawanya tentulah dengan tonase cukup besar, dan hanya bisa berlabuh dialur yang dalam dan luas. Diduga saat itu, lokasi kota Tan Jung Wu Lo berada dekat dengan pelabuhan, dan wilayah geografisnya saat ini mungkin terletak di "Ketapang Kecik", Kandang Kerbau (Sukabangun), atau sekitar kuala sungai pawan (Negeri Baru). 

       Dalam Nagarakertagama, Tanjungpura disebut sebagai daerah bawahan Majapahit. Naskah Nagarakertagama oleh Prapanca selesai ditulis pada tahun 1365 M, periode Raja Hayam Wuruk berkuasa (1350 - 1389 M). Selain menceritakan tentang kerajaan Majapahit, naskah tersebut juga menceritakan kerajaan Singasari (1222 - 1292 M). Salah satu alur sejarah yang dapat dicermati yaitu pada saat pelantikan Gajah Mada menjadi Mahapatih Amangkubumi (1334 M) oleh Sri Tribuana Tunggadewi (1328 - 1350 M) dia mengucapkan sumpah setianya (disebut Sumpah Palapa), dan Tanjungpura pada saat itu belum merupakan daerah bawahan Majapahit. Oleh karenanya salah satu isi sumpah Gajah Mada adalah akan menundukkan Tanjungpura (Atmodarminto : 2000). 

      Dalam Prasasti Waringin Pitu (1447 M), Tanjungpura (Tanjungnagara) sudah merupakan nama ibu kota negara bagian Majapahit untuk wilayah Pulau Kalimantan (Sehieke 1959). Pada masa itu, Majapahit dipimpin oleh raja Dyah Kertawijaya/Prabu Kertawijaya Brawijaya I (1447 - 1450 M). Letak geografis kota Tanjungpura tersebut sebagaimana yang identifikasi Pigeaud (1963), Djafar (1978), dan Muhammad Yamin (1965), adalah terletak didalam batasan wilayah "Kota Ketapang" yaitu sebelah selatan kota Ketapang (sekarang Negeri Baru). 

      Versi lain mengenai berdirinya kota Ketapang dapat ditinjau dari peristiwa sejarah yang sangat penting pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Zainuddin di Kerajaan Matan, yaitu peristiwa perampasan kekuasaan oleh saudaranya sendiri Pangeran Agung pada tahun 1710 M. Pangeran Agung yang gagal merebut tahta saudaranya, dipenjarakan (diasingkan) oleh Sultan Muhammad Zainuddin dengan membuatkannya suatu kota kecil lengkap dengan pelayannya (gundik) 40 orang. Dalam Sejarah Kalimantan Barat (Loutan 1973) daerah tersebut adalah Darul Salam. Orang Ketapang menyebut daerah tersebut Tembalok (tempat penjara raja) atau Sei Awan seberang Sukabangun. Dalam sejarah kerajaan Riau Johor dikatakan "dikurung dalam kota kecil sampai mati" (Ahmad 1985). 

    Hingga saat ini kesepakatan tentang hari jadi Kota Ketapang masih dalam proses kajian. Data diatas dapat dijadikan sebagai bahan rujukan dalam penentuan hari jadi Kota Ketapang secara legal formal (berdasarkan rujukan hasil Diskusi Panel Adat Budaya dan Kelestariannya di Musyawarah Besar II Ikatan Keluarga Kerajaan Matan dan Tanjungpura tanggal 7 s/d 8 Agustus 2004). 



sumber : http://humas.ketapang.go.id/info_daerah.php?k=sejarah_ketapang

Sejarah Singkat Ketapang


Pada masa pemerintah Hindia Belanda, sejak tahun 1936 Kabupaten Ketapang adalah salah satu daerah Afdeling, yaitu merupakan bagian karesidenan Kalimantan Barat (Residentis Westerm Afdeling Van Borneo) dengan pusat pemerintahannya di Pontianak. Kabupaten Ketapang pada waktu itu dibagi menjadi tiga Onder Afdeling yang dipimpin oleh seorang Wedana, yaitu : 

1. Onder Afdeling Sukadana di Sukadana terdiri dari 3 (tiga) Onder Distrik yaitu : 
a. Onder Distrik Sukadana 
b. Onder Distrik Simpang Hilir 
c. Onder Distrik Simpang Hulu 




2. Onder Afdeling Matan Hilir di Ketapang terdiri dari 2 (dua) Onder Distrik yaitu : 
a. Onder Distrik Matan Hilir 
b. Onder Distrik Kendawangan 

3. Onder Afdeling Matan Hulu di Nanga Tayap terdiri dari 4 (empat) Onder Distrik yaitu : 
a. Onder Distrik Sandai 
b. Onder Distrik Nanga Tayap 
c. Onder Distrik Tumbang Titi 
d. Onder Distrik Marau 

       Afdeling Ketapang sendiri dibagi menjadi 3 (tiga) kerajaan yang dipimpin oleh seorang Panembahan, yaitu : 

1. Kerajaan Matan : 
- Onder Afdeling Matan Hilir 
- Onder Afdeling Matan Hulu 
2. Kerajaan Sukadana : 
- Onder Afdeling Sukadana 
3. Kerajaan Simpang : 
- Onder Afdeling Simpang Hilir 
- Onder Afdeling Simpang Hulu 
Sampai dengan tahun 1942 kerajaan diatas masing-masing dipimpin oleh : 
1. Gusti Muhammad Saunan di Kerajaan Matan 
2. Tengku Betung di Kerajaan Sukadana 
3. Gusti Mesir di Kerajaan Simpang. 

       Setelah masa pemerintahan Hindia Belanda berakhir dengan datangnya Jepang tahun 1942, Kabupaten Ketapang masih dalam status Afdeling. Perbedaannya terletak pada pimpinannya yang diambil alih langsung oleh Jepang. 

      Setelah masa kemerdekaan Republik Indonesia, dimana masih terjadi perebutan kekuasaan dengan pihak Pemerintah Belanda (NICA), bentuk pemerintahan di Ketapang masih tetap dipertahankan sebagaimana sebelumnya yaitu berstatus Afdeling yang disempurnakan dengan Staatsblad 1948 No. 58 dengan pengakuan adanya pemerintahan swapraja. Pada waktu itu Ketapang dibagi menjadi 3 (tiga) daerah swapraja, yaitu : Sukadana, Simpang dan Matan yang kemudian digabung menjadi sebuah federasi. 

      Pada masa pemerintahan Republik Indonesia, menurut Undang-undang No. 25 tahun 1956 maka Kabupaten Ketapang mendapat status sebagai bagian daerah otonom Propinsi Kalimantan Barat yang dipimpin oleh seorang Bupati sebagai Kepala Daerah. 

      Kabupaten Ketapang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1959 tentang Penetapan Undang-Undang Darurat Nomor 3 Tahun 1953 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II di Kalimantan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1953 Nomor 9) sebagai Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1959 Nomor 72, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1820). 


     Selanjutnya berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2007 tentang pembentukan Kabupaten Kayong Utara di Propinsi Kalimantan Barat, maka sejak tanggal 26 Juni 2007, 5 (lima) wilayah kecamatan di Kabupaten Ketapang dimekarkan menjadi satu kabupaten baru dengan nama Kabupaten Kayong Utara. 


Nama-nama Kepala Daerah yang pernah menjabat di Kabupaten Ketapang sejak 1947 sampai sekarang, adalah : 


1. R. Soedarto (1947 - 1952) 
2. R.M. Soediono (1952 - 1954) 
3. M. Hadariah (1955 - 1958) 
4. Herkan Yamani (1959 - 1964) 
5. Drs. Muehardi (1965 - 1966) 
6. M. Tohir (1966 - 1970) 
7. Denggol (Pj) (1970 - 1972) 
8. Zainal Arifin (1973 - 1978) 
9. Soehanadi (1978 - 1983) 
10. Gusti Muh. Syafril (1983 - 1988) 
11. Mas'ud Abdullah, SH (1988 - 1992) 
12. Drs. H. Soenardi Basnu (1992 - 1998) 
13. H. Prijono, BA (Plt) (1998 - 2001) 
14. H. Morkes Effendi, S.Pd, MH (2001 - 2010)
15. Drs. Henrikus, M.Si (2010 - sekarang). 


sumber : http://humas.ketapang.go.id/info_daerah.php?k=sejarah_ketapang

È