ENTER

Welcome To My Website

Semue Nye Tentang Ketapang Dan Mulie Kerte.

MUSTIKE JAYE INDAH SEMPURNE

DILUPAKAN PANTANG DI LANGKAH TULAH

Ketapang Indie Label

Not Creative You Die.

The Young To Tanah Kayong

The Young To Tanah Kayong

Minggu, 25 Desember 2011

Komunitas KIL (ketapang Indie label)


Di dalam postingan ini saya agak sedikit melenceng dari postingan-postingan sebelumnya guys, saya ingin memperkenalkan kalian dengan sebuah komunitas video yaitu ketapang indie label atau biasa di singkat KIL.
mungkin belum banyak yang tau dengan KIL ini sendiri. komunitas ini didirikan oleh saya sendiri dan 1 teman saya yaitu Ade Dwi Putra Bintarto,misi kami membangun komunitas ini hanya untuk meningkatkan kreatifitas masyarakat ketapang khusus nya bagi pemuda. Mereka bisa berkreatifitas dengan cara mereka sendiri dan bisa memperkenalkan ketapang itu dengan media visual yaitu video. Alhamdulillah,kami sangat bersyukur karya kami mendapat respon yang baik dari masyarakat dan kami masih perlu saran dan kritik dari masyarakat agar karya kami bisa lebih baik.singkat kata, kami hanya ingin dengan komunitas Ketapang Indie Label ini kita bisa berkarya dan bisa memperkenalkan Kab. Ketapang Kal-bar ke Dunia.
kalian bisa melihat karya kami di http://www.youtube.com/user/bumblekidz268 dan di facebook kalian bisa like fanpage kami Ketapang Indie label.
bikin karya dengan bahan yang minimum dan bisa menghasilkan yang maksimum karena tanpa kreatifitas hidup ini seakan mati :D NOT CREATIVE YOU DIE

Sabtu, 28 Mei 2011

suplai BBM di kurangi

KETAPANG – Plt Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Ketapang, Cipriana Lestari mengatakan bahwa sejak April lalu memang ada pengurangan suplai BBM dari Pertamina dari jumlah sebelumnya. Tetapi pengurangan tersebut masih dalam koridor kuota yang disubsidi dari APBN.“Suplai BBM tiap bulan suplai ke Ketapang memang tidak sama. Kadang tinggi dan rendah. Tetapi untuk setiap bulannya, masih sesuai dengan kuota per tahunnya,” kata Cipriana Lestari saat ditemui di Pendopo Bupati Ketapang, Jumat (27/5).Sayangnya, Cipriana enggan mengemukakan berapa angka pastinya jumlah penurunan tersebut. Dia mengatakan tidak mengetahui persisnya. Karena Pertamina dalam mendistribusikan langsung didrop ke Tanjung Uban. Sehingga jumlah pasokan ke Tanjung Uban itulah yang disdistribusikan.

Bulan ini pihaknya belum menerima laporan dari pihak SPBU, jobber maupun dari Pertamina sendiri.“Ada edaran mengenai masalah ini. Misalnya setiap agen yang ditunjuk kecamatan yang belum ada SPBU-nya, dalam setiap bulan diperbolehkan mengambil minyak delapan kilo liter. Sementara untuk kecamatan di kota, atau yang sudah ada SPBU-nya, camat tidak boleh lagi mengeluarkan rekomendasi,” katanya.Tidak boleh melebihi kuota tersebut. Namun jika ada SPBU yang melayani orderan itu, yang berhak memberikan tindakan adalah Pertamina. Kalaupun ada pengecer atau agen tidak resmi, tentunya itu masuk unsur pidana. Hingga masuk ranah kepolisian yang menyidik. “Sebenarnya untuk kecamatan yang tidak ada SPBU, ada ditunjuk semacam agen sesuai dengan rentang wilayahnya. Kemudian agen minta rekomendasi dari camat. Di situ terdapat rinciannya, untuk apa digunakan,” katanya.

Rekomendasi Langgar Aturan
Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Ketapang belum lama ini menemukan rekomendasi yang dikeluarkan Camat Delta Pawan untuk pengambilan BBM di SPBU. Padahal, sudah ada larangan bahwa Kecamatan di Kota tidak boleh mengeluarkannya.“Sekarang ini, pihak kami sedang berkoordinasi dengan camat Delta Pawan. Terkait adanya rekomendasi yang dikeluarkan itu. Pengambilan BBM itu mengatasnamakan nelayan,” ujar Cipriana.Menurutnya, Kecamatan yang sudah ada SPBU nya seperti Delta Pawan, Benua Kayong dan Muara Pawan, camat tidak lagi diperkenankan mengeluarkan rekomendasi kepada agen atau pihak untuk pengambilan minyak di SPBU.

“Itu tidak boleh, kalaupun itu atas nama nelayan, harus ada validasi dari Dinas Kelautan dan Perikanan, baru disampaikan ke Distamben,” katanya.Padahal, lanjutnya, surat edaran sudah disampaikan ke semua camat dan SPBU. Sudah jelas di situ disebutkan. Bahwa untuk Kecamatan yang berada di Kota tidak boleh mengeluarkan surat rekomendasi.(fah)

sumber : http://www.pontianakpost.com/index.php?mib=berita.detail&id=92406

Senin, 14 Maret 2011

Istana Panembahan Matan-Tanjungpura di Mulia Kerta



Istana Panembahan Matan di Mulia Kerta Ketapang merupakan salah satu istana era Kerajaan Melayu Islam yang tersisa di Kalimantan Barat. Berdasarkan jejak sejarahnya, Istana Panembahan Matan merupakan pusat pemerintahan dari Kerajaan Matan-Tanjungpura yang sebenarnya kelanjutan dari Kerajaan Tanjungpura dari era Hindu yang pernah mempunyai nama besar di seantero Kalimantan.
Secara periodik, Kerajaan Matan-Tanjungpura yang berpusat di Mulia Kerta adalah kelanjutan dari Kerajaan Tanjungpura. Bermula di Sukadana Kabupaten Kayong Utara (KKU), Tanjungpura menuliskan peradabannya, sepanjang sejarah Tanjungpura yang berjalan semenjak kira-kira tahun1431 M, sampai dengan tahun 1724 M, Sukadana menjadi pusat pemerintahannya. Ketika kerajaan Pontianak berdiri sebagai kota pelabuhan, Sukadana merupakan bandar pelabuhan perdagangan yang menjadi saingan sehingga perlu ditaklukan oleh Pontianak.

Jumat, 04 Februari 2011

Pantun Melayu

pengirim : wayank---- Tanggal : 08-Apr-2009 13:34:29

" Ke Kanal mau bebeli ubi
Baleknye malah bawa bini
Salam hormat dari newbi(e)
Ijinkan saie ngeramaikan forum ni

Ikan gabus namenye ruan
Ade yang jual pasti ade yang beli
Sekali teminom aik Pawan
Lamak lekas pasti kembali "

Makna : Rindu same rumah
Lamak dah ndak balek:(



Kumpulan Syair Gulung

BIARKAN

Biarkan aku mengingatmu
tuk dapat menepis gelisahku
Biarkan aku mengenangmu
tuk sekedar lepaskan gundahku

Andai kau tahu...
Hati ini memagut resah
kala dirimu hendak memudar

Kini...........
hanya gumpalan hampa yang kurasa
kala langkahmu tak mampu tuk kujangkau

Taukah kau..........
Diri ini utuh karenamu

Biarkan aku terus hidup di sanubarimu
Karenaku.............
Sayangimu seutuhnya.
"

LILIN MALAM

" Laksana duka yang terpaut
Hanya Luka dan kebimbangan kian merenggut
Entah apa dan siapa dia?
Dimana hatiku menuntut

Kalbu sedikit merintih
mengapa disaat pandangan menghilang
Hati yang harus terbuang?

Mungkin,
Apa yang aku rasakan
Takkan pernah sama
Dengan apa yang aku fikirkan

Karena aku tak lebih,
Dan takkan lebih dari sekedar
Lilin - lilin malam

Yang harus korbankan
Diri, hati, dan perasaan
demi cahaya raga
dari cengkeraman kebutaan.

Ya.....
Aku hanya sebatas
Lilin - Lilin malam

Hanya kepedihan
Hanya kedukaan
Hanya kerinduan
Hanya.................. " 

NO NAME (NN)

" WANITA TERCIPTA DARI TULANG RUSUK PRIA,
TIDAK DARI KEPALA UNTUK DIJADIKAN ATASANNYA,
TIDAK PULA DARI KAKI UNTUK DIJADIKAN ALASNYA.
TAPI,
DEKAT DENGAN LENGAN UNTUK DILINDUNGI,
DAN,
DEKAT DENGAN HATI UNTUK DICINTAI. "

Kamu Dalam Makna

" Dalam Laut ada Tiram
Dalam Tiram ada Mutiara
Dalam Mutiara Tak ada Apa-apa.

Dalam Baju ada Aku
Dalam Aku ada Hati
Dalam Hati Tak ada Jua Apa-apa.

Dalam Syair ada Kata
Dalam Kata ada Makna
Dalam Makna, Mudah-mudahan ada
Kamu...

"

Jejak Budaya Masyarakat Kalimantan


Jejak Budaya Masyarakat Kalimantan


      */Oleh Ir. Gusti Kamboja, MH/*


      *Pendahuluan: Masyarakat Awal Kalimantan*

    Sejarah sosial masyarakat Kalimantan sangat sedikit memiliki dokumen
tertulis, umumnya yang kita jumpai sekarang adalah cerita-cerita lisan
yang memiliki kesamaan genre di wilayah lainnya di Indonesia dan sulit
menemukan jejak historisnya. Memang banyak cara untuk mengetahui sejarah
masa lampau di antaranya melalui temuan arkeologi, antropologi, adat
budaya, bahasa yang digunakan, dan data genetik populasi masyarakat,
sehingga setiap orang dapat mengetahui kejadian masa lampau relatif baik
dan benar.

    Sejarah merupakan kebutuhan masyarakat dalam mencari jatidirinya untuk
menyongsong masa depan. Berbagai pertanyaan mendasar yang rumit untuk
dijawab, seperti siapa manusia pertama yang menghuni wilayah Kalimantan,
bagaimana mereka mencapainya, bagaimana mereka hidup di ekosistem hutan
hujan tropika, apa bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi, bagaimana
adat budayanya, termasuk ras apakah mereka, dan seterusnya. Singkatnya,
dari mana kita berasal?

   Pulau Kalimantan saat ini (termasuk Sarawak dan Sabah, Malaysia) pada
masa Glasial merupakan daratan yang dulunya tergabung dengan wilayah
Malaysia, Vietnam, Sumatra, Jawa, Palawan, Calamian, Luzon, Taiwan, dan
pulau kecil lainnya yang disebut Paparan Sunda. Keragaman flora dan
fauna di daratan hutan hujan ini dalam beberapa hal memiliki kesamaaan
jenis. Kondisi lingkungan yang seragam ini mempengaruhi penyebaran
manusia modern pertama di wilayah ini dan budaya yang dicapainya.

    Untuk memahami tentang asal-usul, penyebaran dan pemilahan populasi
masyarakat Kalimantan,  kami mencoba mengambil pendekatan genetik yang
mengkaji penyebaran faktor-faktor penentu keturunan, antroplogi biologis
yang berkaitan dengan kajian fenotipe, konsep linguistik, dan adat
budaya sejaman dari para peneliti yang telah ada untuk seluruh kawasan
Indo-Malaysia.

     Populasi masyarakat Kalimantan saat ini sangat beragam sebagaimana semua
populasi manusia di wilayah Kepulauan Nusantara. Keragaman itu tercermin
pada berbagai tingkatan mulai dari pribadi-pribadi, kelompok
entoliguistik, zona-zona geografi, dan akhirnya ke tingkat ras-ras
utama. Para ahli sejarah, arkeologi, dan antropologi sepakat bahwa untuk
populasi-populasi Indo-Malaysia, termasuk di wilayah Kalimantan untuk
40.000 tahun terakhir secara hirearki tradisional paling atas termasuk
dalam dua ras utama, yaitu ras Australo-Melanesia (Australoid) dan
Mongoloid Selatan.

    Data arkeologi dari Situs Gua Niah (Serawak) yang ditemukan serangkaian
kerangka manusia bertarikh karbon sekitar 40.000 tahun dan penemuan
kerangka manusia di Tabon (Filipina)  bertarikh karbon 22.000 tahun,
memberikan bukti yang disimpulkan oleh Belwood (1997) bahwa suatu
populasi Australo-Melanesia sebelumnya sudah ada di daerah-daerah yang
diduduki oleh orang Mongoloid Selatan sejak setidaknya 1000 SM.

    Sisa-sisa jejak leluhur orang Australo-Melanesia yang masih ada sekarang
adalah /Orang Asli, /di Kelantan (Malaysia), yaitu orang Negrito yang
berburu dan mengumpulkan makanan dan orang Senoi yang bertani. Kelompok
Negrito menurut Saha dkk (1995) memiliki kecenderungan ciri yang sama
dengan orang Australo-Melanesia.//

    Geografi rasial masa kini di wilayah Kalimantan dan wilayah lainnya di
Indonesia tidak seluruhnya disebabkan oleh evolusi lokal yang terjadi
sejak manusia-manusia yang secara anatomis modern pertama memasuki
kawasan ini, dan bukannya  tanpa perpindahan populasi. Memang benar
menurut Belwood (1997), bahwa semua populasi mengalami seleksi alamiah,
dan bila kelompok-kelompok yang beranak-pinak itu kecil, mereka terutama
akan mengalami hayutan genetik (/genetic drift/) yang mengakibatkan
polimorfisme dengan terbentuknya kelompok-kelompok yang mempunyai ciri
genetik khusus. Bentuk-bentuk pemilahan kelompok yang terjadi di tempat
lokal (in situ) dalam populasi-populasi yang agak atau pun sama sekali
terisolasi.


      *Ciri-ciri Fenotipe*

    Penduduk wilayah Kalimantan umumnya sebagian besar termasuk dalam ciri
fenotipe Mongoloid Selatan dengan penutur bahasa-bahasa Autronesia.
Semuanya memiliki cukup banyak kesamaan baik secara fisik, budaya,
maupun bahasa, meskipun selama 2.000 tahun terakhir mengalami pengaruh
yang silih berganti dari peradaban Hindu-Budha, Cina, Islam, dan Eropa.

    Ciri-ciri populasi Mongoloid menurut Coon (1966) adalah ?bangsa-bangsa
ini sebagian besar pendek, dengan kaum prianya mempunyai mempunyai
tinggi rata-rata antara 157 dan 160 cm, berperawakan sedang, berkulit
kekuning-kuningan atau coklat, kebanyakan berambut lurus. Di antara
sebagian besar dari mereka, jarang terdapat kelopak mata Mongol. Seperti
orang-orang Australoid, kebanyakan di antara mereka bergigi besar.
Mereka mewakili satu campuran yang kurang lebih seimbang antara
unsur-unsur Mongoloid dan Australoid, dengan variasi-variasi lokal?

    Ciri-ciri keturunan Australo-Melanesia menurut Belwood (1997) mungkin
lebih nyata terlihat pada populasi-populasi yang dulu disebut
Proto-Melayu. Kelompok ini memang dibedakan dengan Deutero-Melayu yang
oleh beberapa ahli masih dianggap mewakili migrasi kedua yang memasuki
kawasan Kalimantan dan terjadi lebih kemudian. Orang-orang yang disebut
sebagai Proto-Melayu mencakup banyak orang pedalaman dari pulau-pulau
lebih besar di Indonesia dan Filipina.

    Ekspansi Mongoloid terus berlanjut sampai masa-masa sejarah yang
menyebabkan aliran gen Mongoloid terus memasuki Indonesia. Jelaslah
bahwa yang dinamakan ?Deutero-Melayu?, sebenarnya adalah populasi di
daerah-daerah yang lebih mudah dicapai, sehingga mereka dapat melakukan
lebih banyak kontak dengan dunia Mongoloid Asia. Jika dimungkinkan
situasi di Indonesia disederhanakan, dapat dikatakan bahwa fenotipe
Mongoloid mendominasi wilayah barat dan utara dan berangsur-angsur surut
ke selatan dan timur.


      *Ciri-ciri Genetik*

    Pemilahan populasi manusia berdasarkan identifikasi garis genetik yang
spesifik untuk populasi dalam asam deoksiribonukleat DNA mitokondria
(DNAmt) pada kawasan Indo-Malaysia menunjukan arti penting China bagian
selatan sebagai kawasan utama bagi penyebaran manusia. DNAmt merupakan
kode genetik atau genom yang diteruskan utuh dari ibu ke anak. Sebagian
besar kromosom Y, yang menentukan laki-laki, berpindah utuh dari ayah ke
anak lelaki. Mutasi yang diakumilasi dalam mtDNA Anda dan kromosom Y
(untuk laki-laki) Anda hanyalah laksana dua benang dalam permadani luas
orang-orang yang memberi kontribusi terhadap genom Anda.

    Kode-kode genetika manusia atau genom menurut Siireeve (2006) adalah
99,9 persen identik di seluruh dunia. Selebihnya ialah DNA
yang//bertanggung jawab terhadap perbedaan individual kita ?warna mata
atau risiko penyakit contohnya? begitu pula sebagian DNA yang tidak
begitu jelas fungsinya sama sekali. Suatu ketika dalam perubahan
genetika yang langka, mutasi acak dan tidak berbahaya dapat terjadi
dalam salah satu DNA-­DNA yang tak berfungsi ini, yang kemudian
diwariskan ke semua keturunan orang itu. Pada generasi-generasi
berikutnya ditemukan bahwa mutasi yang sama atau pemetaan dalam DNA dua
orang, menunjukkan bahwa mereka memiliki leluhur yang sama.

    Hasil penelitian keanekaragaman gentik Indonesia yang dilakukan oleh
Lembaga Eijkman Jakarta telah memetakan bagaimana DNA yang unik pada
setiap individu itu menyebar dan menggambarkannya bak sebuah peta
pengembaraan manusia di Kepulauan Indonesia, termasuk Kalimantan. Hasil
pemetaan itu mendukung teori penyebaran bahasa yang dianggap, paralel
dengan penyebaran variasi genetis manusia. Satu kelompok yang memiliki
bahasa yang sama, umumnya berasal dari nenek moyang yang sama pula.

    Hasil pengujian DNA berbagai etnis di Indonesia (juga di Kalimantan)
tersebut menunjukkan sekitar 60 ribu hingga 40 ribu tahun sebelum masehi
(SM) terjadi migrasi manusia memasuki Indonesia dari daratan Asia, yang
sisanya masih bisakita lihat di Papua dan daerah Alor yang berbahasa
Melanesia. Disusul migrasi dari Formosa sekitar 3.000 tahun SM melewati
Filipina, Sulawesi, lalu menyebar ke Sumatra, Jawa, dan Kalimantan yang
berbahasa Austronesia.

    Mutasi genetik dalam DNA orang Kalimantan (Melayu dan Dayak), menunjukan
jejak leluhur yang sama. Dari penelitian ini juga menunjukkan adanya
migrasi balik dari Papua ke Nusa Tenggara karena ada percampuran antara
orang berbahasa Austronesia dengan Austroloid. Penampilan fisik
orang­-orang Alor di Nusa Tenggara Timur sama dengan orang-orang Papua
yang tergolong Austroloid, dan berbahasa Melanesia. Aliran migrasi balik
ini belum diletakkan dalam peta migrasi yang selama ini diketahui secara
luas.

    Menurut Herawati dari Lembaga Eijkman, variasi mutasi genetis
orang-orang Nias dan Mentawai ternyata berbeda dengan kebanyakan orang
Indonesia yang tiba pada masa migrasi dari Formosa, terutama dengan
populasi di Pulau Sumatra, Jawa, dan Kalimantan yang dulu pernah menjadi
satu. Variasi genetis itu menjelaskan bahwa mereka, "Datang dari masa
yang lebih tua," dan sangat mungkin menjadi sumber genetik dan nenek
moyang orang Indonesia.

   Meskipun Orang Mentawai dan Nias mema­kai bahasa yang tergolong dalam
bahasa-bahasa Austronesia, sebagai ciri migrasi dari Formosa 5.000 tahun
lalu, namun ciri-ciri genetis yang lebih tua mematahkan teori linguistik
itu. Mentawai terpisah dari Sumatra sejak satu juta tahun lalu, dan
migrasi manusia pertama ke Indonesia terjadi hanya 60 ribu tahun yang
lalu. Pulau-pulau di sebelah barat Sumatra yang terpisah itu tampaknya
tidak memiliki sejarah percampuran genetis dengan Pulau Sumatra dan
pulau-pulau besar di sekitarnya dalam waktu yang sangat lama. Kenyataan
ini membawa kesimpulan yang mungkin akan mengubah perkiraan masa migrasi
manusia, karena orang Mentawai mungkin sudah ada di sana jauh sebelum
migrasi pertama diperkirakan tiba 60 ribu tahun lalu.

   Boedhihartono, pakar antropologi ragawi dari Universitas Indonesia
menyimpulkan, "Orang Nias dan Mentawai adalah lapisan dasar orang
Indonesia". Bentuk tubuh, tulang, serta ciri-ciri kultural dan pola
makanannya mirip dengan orang-orang di daerah Papua. Sumber makanan
orang Mentawai dan Papua sama-sama didapat dari tanaman vegetatif
seperti sagu, talas, dan pisang, bukan dari tanaman benih atau biji.
Mereka juga suka memakan /tutube-ulat /sagu yang kaya protein. Seperti
di Papua, orang Mentawai belum mengenal proses fermentasi dan pembuatan
alkohol.


      *Ciri-ciri Linguistik*

    Secara linguistik masyarakat Kalimantan hampir seluruhnya menuturkan
bahasa-bahasa Austronesia yang terbagi dalam sub-kelompok bahasa Melayu
Polinesia Barat. Dalam konsep ini pencarian jejak-jejak leluhur didekati
berdasarkan kelompok dan sub-kelompok bahasa yang dituturkan orang di
wilayah tersebut. Sebagaimana yang dikatakan oleh Swadesh (1964) bahwa,
ada tiga cara utama dalam ilmu bahasa yang dapat membantu menjelaskan
prasejarah: (a) dengan mengumpulkan fakta-fakta asal-usul bersama
bahasa-bahasa dan pemisahan yang terjadi sesudahnya, yang menyiratkan
bahwa awalnya ada kesatuan bangsa-bangsa yang kemudian disusul
terjadinya pemisahan; (b) dengan menemukan ciri-ciri yang tersebar di
antara bahasa-bahasa (fonetik, tatabahasa, kosakata) yang mengandung
bukti adanya kontak budaya prasejarah; dan (c) dengan menyusun kembali
kosakata yang menunjukkan tahap-tahap purba bahasa tersebut sehingga
diperoleh petunjuk mengenai lingkungan fisik dan wujud budaya-budaya
pada masa prasejarah.

    Begitu juga ahli bahasa lainnya seperti Nothofer (1994) dan Collins
(1995) telah melakukan kajian bahasa komparatif dan dialektologi atas
bahasa-bahasa di Kalimantan. Menurutnya, melalui pendekatan ini akan
digunakan untuk mengkaji dasar dan kaedah bahasa seperti, (a) inovasi
yang diperlihatkan dalam dua atau lebih daripada dua varian bahasa
menandakan hubungan kekerabatan yang purba dan penyebaran ciri-ciri
linguistik memang berkaitan dengan penyebaran masyarakat, artinya
melalui perbandingan ciri-ciri bahasa, sejarah migrasi bangsa dapat
ditelusuri.

   Berikut ini beberapa contoh dialek Ketapang, Kalimantan Barat, yang
masih dijumpai dalam percakapan di masyarakat. (disusun berdasarkan
klasifikasi Collins dan Nothofer):


      *a. Bunyi purba *-r menjadi hentian glotis (?) dalam kata-kata
      tertentu:*

*air
ai?
air

*ikur
eko?

ekor

*t?lur

t?lu?

telur



      *b. Hentian glotis (?) ditambah pada akhir perkataan yang
      sebenarnya berakhir dengan vokal dalam bahasa purba:*


*agi**
agi?**

lagi**
*asu**

asu?**

anjing**

*sawa**

sawa?**

ular sawa**

*muda**

muda?**

muda**

*lama**

lama?**

lama**



      *c. Perkataan yang berakhir dengan ?h dalam bahasa purba
      memperlihatkan hentian glotis (?) dalam varian-varian Ketapang:*


*basuh**

basu?**

basuh**

*getah**

geta?**

karet**

*mantah

menta?**

mentah**


Terdapat juga inovasi leksikal yang dijumpai dalam varian-varian
Ketapang, seperti:


Au?

ya

Bula?

bohong

Kula?

kalian



    Beberapa kosakata dalam dialek Ketapang tersebut dikelompok oleh ahli
linguistik dalam bahasa Autronesia. Menurut Pawley (1981) dan Blust
(1976), kesepadanan bunyi menunjukkan dengan tegas bahwa tradisi budaya
bendawi seperti tembikar, alat pertanian, alat perikanan, dan lain-lain
terus berlanjut. Artinya, tradisi tersebut tidak pernah hilang sama
sekali dari kelompok Autronesia yang tersebar luas. Dalam istilah
arkeologi, mereka adalah komunitas Neolitik.

   Contoh kata sebutan untuk budaya bendawi yang juga ada pada masyarakat
Ketapang yang terdapat pada Formosa (U), Melayu-Polinesia Barat (B) dan
Melayu-Polinesia Timur (T), yang disusun berdasarkan rekonstruksi
menurut Blust 1976:


Alat-alat, perkakas, senjata:

busur, anak panah, tali/kawat, Sisir, kuali, paku, bantal, titian bambu,

(UBT)

Obor, kayu untuk menggali

(BT)

Seni dan kerajinan:

Jarum

(UBT)

Perkakas tenun

(UB)

Hewan peliharaaan:

babi, anjing peliharaan
(UBT)

Ayam jantan

(BT)

Tanaman dan kebun:

sekam padi, lesung, nasi, penampi, Jerami, padi-padian

(UB)

Menyiangi, sukun, jahe, jeruk, Pisang, ubi, sagu, talas

(BT)

Penyiapan hidangan:

panggang, mengasapi daging, ikan.

(BT)

garam

(UBT)




    Makna dari kata yang terdapat dalam masyarakat budaya bendawi Ketapang
mempunyai bentuk-bentuk kognat lebih dari satu kata dalam kelompok utama
bahasa Formosa (U), Melayu Polinesia Barat, dan Melayu Polinesia Timur.
Kesamaan seperti ini menurut Bellwood (1997) dapat dianggap sebagai
calon pasti bahasa Proto-Autronesia.


      *Sejarah Budaya Kalimantan*

    Selama seribu tahun, antara 500 SM hingga 500 M, Kepulauan Nusantara
tergabung dalam lingkungan interaksi budaya yang lebih luas meliputi
Asia Selatan dan Asia Timur. Hubungan dengan peradaban India dan Cina
juga dimulai pada masa ini (Bellwood, 1997). Proses terbentuknya
keragaman budaya di nusantara, termasuk di Kalimantan tidak dapat
semata-mata didasarkan pada ?lapisan-lapisan? budaya akibat migrasi
berturut-turut oleh kelompok-kelompok berciri etnik dengan budaya
masing-masing yang oleh beberapa ahli etnologi seperti Hose (1926), Loeb
(1935), Kennedy (1937), dan Cole (1945) disebut dengan gagasan
?gelombang-gelombang? migrasi orang Veddoids, Proto-Melayu, dan
Deutero-Melayu dengan ciri khas budaya mereka. Sehingga apabila mengacu
pada pendapat Bellwood dan temuan arkeologi, budaya awal masyarakat
pulau Kalimantan pada masa prasejarah dapat ditafsirkan relatif seragam,
setidaknya untuk kurun waktu seribu tahun sampai terbentuknya keragaman
budaya pada periode selanjutnya yang disebabkan adanya proses ekspansi
dan adaptasi yang berjalan lambat oleh suatu populasi manusia ?awal?
(Austronesia) yang relatif merupakan satu kesatuan, dan dipandukan
dengan hubungan antar kelompok dan pengaruh-pengaruh peradaban dari luar
secara berturutan. Pendapat ini juga didukung oleh  Moore (1994), yang
mengatakan bahwa keragaman budaya yang terbentuk di Kepulauan
Indo-Malaya bersifat /rhizotik/, yaitu melalui interaksi antara
kelompok-kelompok yang berdekatan dan /bifurkatif/ (lewat diversifikasi
yang terjadi akibat penyebaran penduduk).

    Munculnya kesadaran etnis yang bercirikan kawasan lebih dipertajam dalam
abad-abad terakhir ini karena berbagai kelompok membutuhkan
lambang-lambang kejatidirian mereka masing-masing untuk menghadapi
tekanan dari kelompok-kelompok pendatang yang berimigrasi lebih kemudian
atau karena mereka harus bergabung dalam suatu sistem negara ataupun
sistem kolonial.

   Di Kalimantan yang kepadatan penduduknya relatif rendah dan
kelompok-kelompok etnisnya terbuka, bukan menolak, orang luar sebagai
pendatang-pendatang dan anggota baru, jatidiri etnis dapat menjadi
luwes. Sebagaimana dikemukan Rousseau (1990) tentang Kalimantan Tengah:
?... adalah salah untuk berprasangka bahwa ada hubungan khusus antara
etnisitas, budaya, bahasa, asal-usul yang sama (atau keyakinan akan
asal-usul yang sama) dan sistem-sistem sosial. Lebih baik kita melihat
berbagai unsur ini sebagai bidang-bidang yang saling bertumpang-tindih,
yang bergerak ke arah yang berbeda sembari saling mempengaruhi.?
Meskipun demikian, pendapat Rousseau ini harus diberikan catatan khusus
untuk hal-hal tertentu. Misalnya, kasus kerusuhan sosial yang terjadi
tahun 2000 dan 2001 di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah harus
dilihat dari perspektif yang luas, bukan karena menguatnya jatidiri
etnis dan penolakan, tetapi disebabkan kelompok-kelompok yang datang
kemudian itu tidak lagi berpegang pada pepatah ?di mana bumi ditinjak di
situ langit dijunjung? (Kamboja, 2006).

    Masyarakat Kalimantan, khususnya di wilayah pesisir dan pulau-pulau,
mempunyai ?gambaran ciri-ciri? etnis yang mencerminkan sejarah
penghunian dan budayanya serta tingkat keterlibatannya dalam sistem
kemasyarakatan dan bernegara. Oleh karena itu budayanya harus
diperhitungkan sesuai dengan apa yang telah dicapainya. Sebagian besar
penduduk, misalnya di wilayah pesisir Kalimantan (Sambas, Singkawang,
Pontianak, dan Ketapang) apabila dilihat dari sejarah budayanya dihuni
oleh mayoritas yang hari ini disebut suku bangsa Melayu dan Bugis
sebagai akibat kegiatan perdagangan yang berpusat pada kerajaan dan
kesultanan sejak abad ke-14 dengan mata pencaharian pokok sebagai
nelayan dan pertanian tradisional. Di wilayah ini sejak jaman
pra-sejarah dipengaruhi oleh peradaban India, China, Islam dan Eropa.
Sebagian kelompok kecil tradisional di wilayah pesisir di Kalimantan
telah mengalami setidaknya beberapa perubahan sebagai akbibat kontak
dengan peradaban modern. Pengaruh tarikan dari peradaban besar dunia
tersebut telah membawa masyarakat pesisir Kalimantan ke dalam interaksi
lintas budaya, yang pada akhirnya menimbulkan pula perubahan-perubahan
dalam kehidupan kemasyarakatan yang bercirikan ?lokal? di wilayahnya.

    Kebudayaan yang dimilki oleh masyarakat pesisir maupun wilayah daratan
Kalimantan hingga dewasa ini secara keseluruhan merupakan gambaran
sebagai kumpulan pengalaman budaya dan pembangunan budaya yang terdiri
dari lapisan-lapisan budaya yang terbentuk sepanjang sejarah wilayah
ini. Adanya pilahan lapisan-lapisan tersebut dikesankan oleh terdapatnya
perubahan-perubahan sistemik pada periode-periode tertentu, yang
disebabkan oleh proses akulturasi. Tiga pengalaman besar dalam
akulturasi di Indonesia menurut Sedyawati (2006) adalah /pertama/,
ketika menyerap agama Hindu dan Budha berserta kompleks kebudayaan
Indian secara selektif, kemudian /kedua/ adalah akulturasi dengan
peradaban Islam, dan yang /ketiga /adalah akulturasi dengan kebudayaan
Eropa yang terjadi bersamaan dengan proses kolonisasi dan penjajahan
oleh bangsa-bangsa Eropa. Konfigurasi historis dengan segala keragaman
perbedaan budaya sebagai perwujudannya itu perlu dipahami lebih baik
oleh seluruh warga negara Indonesia di masa kini, sehingga wawasan
kebangsaan kita dapat menjadi lebih mendalam, dan tidak semata-mata
terbelenggu oleh kondisi-kondisi temporer di masa kini saja.


      *Unsur Magis dalam Adat-Istiadat *

    Adat itu cermin kita. Sejarah mencatat bahwa terbentuknya tata nilai
masyarakat dalam suatu daerah tidak terlepas dari pengaruh peradaban
masa lalu. Pengalaman sosio-historis Indonesia menunjukan bahwa adanya
sistem kemasyarakatan, pemerintahan dan negara dibentuk dari keragaman
budaya suku bangsa yang mendukungnya.

    Salah satu budaya yang masih dikekalkan masyarakat di Kalimantan adalah
budaya air, ?/bebuang/?. Adat /bebuang/ ini biasanya dilakukan pada
upacara perkawinan, melahirkan, upacara setelah panen, dan melaut. Pada
masyakat Melayu yang beragama Islam, tradisi /bebuang/ ini dalam prosesi
adatnya sudah memasukan ayat-ayat Alqur?an dalam doa-doanya.   Prosesi
adat /bebuang/ dilakukan di sungai atau laut (pakai perahu atau rakit),
kemudian seorang tetua adat akan memulai upacara bebuang ini dengan
terlebih dahulu membaca doa yang dimulai dengan salam kepada Nabi Haidir
(Kamboja, 2007).

   Setelah membaca doa tersebut, bahan-bahan dalam bokor (atau mangkuk
putih) dibuang semuanya ke sungai atau laut sambil dikais-kais tiga
kali. Kemudian, airnya diambil dan dimasukkan dalam wadah bokor tersebut
dan ditiupkan doa: /Ayat Kursi + (serapah) + (doa dalam surah Yasin).
/Air dari bebuang tersebut ada yang diusapkan, disemburkan, dan
dimandikan kepada orang yang melaksanakan upacara adat tersebut.

   Makna dari adat bebuang ini adalah sebagai simbol persahabatan dengan
semua makhluk ciptaan tuhan yang berada  di dalam air dan melalui
pertolongan Allah memohon keselamatan bagi pelaksana adat atau bagi
masyarakat desa/kampung tersebut. Bahan-bahan untuk bebuang ditempatkan
didalam bokor atau mangkuk putih, isinya adalah paku-keminting, rokok
sebatang, telur sebutir, beretih beras kuning, uang logam, lilin, pisang
sebutir, dan beliung.

   Selain tradisi bebuang dalam masyarakat nelayan terdapat juga tradisi
lainnya, seperti tradisi /mandi naga/ di Kraton Matan, /anjung /di
Sambas, /robok-robok/ di Mempawah, /tumpak negeri/ di Landak, dan
/penyapat kampung/ pada masyarakat nelayan. Prosesi /penyapat kampung/
dimulai dengan /membuang ancak/, /kerenah laut/ dan ditutup dengan
ucapara /tepung tawar/. Tradisi ini diyakini untuk keselamatan
kampung/desa dari segala macam penyakit dan untuk menghindari musibah
para nelayan saat melaut dari gangguan /bujang kahar/ (tokoh gaib dalam
cerita mitologi masyarakat).

   Selain tradisi tersebut masih terdapat unsur-unsur magis dalam setiap
prosesi adat di masyarakat Kalimantan dan menjadi bagian penting dari
bentuk harmonisasi hubungan alam dengan masyarakatnya. Bentuk-bentuk
magis itu umumnya disebut /Ilmu/, yang terdiri dari /serapah, tawar,
tuju, pulung, isim, rajah /dan lainnya. Bacaan ilmu umumnya berbentuk
sastra klasik yang diantaranya bernuasa Islam. Hal ini dapat dilihat
dari isi ilmu yang dimulai dengan mengucapkan /basmalah /dan diakhiri
dengan kalimah syahdat. Berikut beberapa contoh ilmu (Yusriadi dan
Hermansyah, 2003):


*Ilmu Serapah:*

/Pisau raut hulu rotan/

/Meraut pinang berbulu/

/Hantu laut hantu setan/

/Aku memburu hantu berburu/


*Ilmu Tawar Sampar:*

/Sang sulah si jimpa? jimpung/

/Taman ladang ladang di telapak kaki kaki/

/Hantu tulah melangkah bumbung rumah kami/

/Muntah darah mengeluarkan hati/

Ilmu Tidak Berlawan:*

/Bi ismi Allah al-Rahman al-Rahim/

/Aku alif engkau ba/

/Aku tau asal jadi empedu engkau/

/dibawad lidahku/

/Dan aku tau asal jadi engkau/

/belalang namanya/

/Berkat do?a la ilaha illa Allah/

/Berkat Muhammad Rasulullah/


*Ilmu Tidak Berlawan:*

/Engkau zat aku sifat/

/Aku sifat engkau zat/

/Ah lemahlah sifat engkau/

/Tidaklah engkau bergerak/

/Berkat do?a la ilaha illa Allah/

/Berkat Muhammad Rasulullah/


*Ilmu Pulung:*

/Sin puin gunting/

/Sang puyang pulang/

/Aku minta (sebutkan nama ....)/

/Pukullah pulung gunting/




*Ilmu Tuju:*

/Bapak sekucung/

/Ibu Siunga/

/Anak bernama bintang seribu seratus/

/Anak bintang sekalam Allah/


*Ilmu Tawar Pulung:*

/Bi ismi Alllah al-Rahman al-Rahim/

/Ayah si pucung/

/Ibu sanyung/

/Anak sawiyah/

/Barang di bawah ringin/

/Sung-sung di atas batu hitam/

/Berkat do?a la ilaha illa Allah/

/Berkat Muhammad Rasulullah/


*Ilmu Pelias Pulung:*

/Inah serimah/

/Ratu arak, pangeran arak/

/Langit bapakku, bumi ibuku/

/Hai kawan aku jaga aku/

/Allah pelindung aku/


*Ilmu Pembungkam:*

/Gerak gerik segentar bumi/

/Bumi bergerak segentar raya/

/Engkau bergerak hantam ke bumi/

/Supaya engkau tiada berdaya/

/Ah aku Allah/

/Aku berlindung dalam kalimah/

/la ilaha illa Allah/











   Akomodasi berbagai magis dari sistem budaya lain (misalnya Islam)
mengambil berbagai bentuk. Ada yang diambil secara utuh dan ada juga
yang kemudian dipadukan dengan ilmu yang sudah ada pada masyarakat di
Kalimantan. Seperti yang dilaporkan oleh Yusriadi dan Hermansyah (2003)
pada masyarakat Embau, Kapuas Hulu, bahwa unsur magis dalam tradisi
sebelum masuknya Islam disebut /bamai /kemudian setelah terjadi proses
akulturasi dengan Islam terdapat akomodasi magis dengan pengalihan nama
/bamai /menjadi /ilmu. /Selanjutnya Yusriadi dan Hermansyah (2003)
membuat klasifikasi /ilmu /berdasarkan etika dan fungsinya menjadi tiga
bagian, yaitu /ilmu putih /(ilmu tawar dan pelindung, dll), /ilmu hitam
/(ilmu pulung, tuju, dll), dan /ilmu netral /(berbagi ilmu kekuatan,
ilmu perempuan, dll).


      *Orang Melayu di Kalimantan*

   Batasan orang yang disebut Melayu di Kalimantan saat ini lebih kuat ke
arah kepercayaan, adat-istiadat dan sosial-politk. Jika orang tersebut
beragama Islam dan mengamalkan budaya yang bercirikan khusus disebut
?orang Melayu?, terutama untuk kasus di Kalimantan Barat. Begitu juga
misalnya apabila seseorang yang karena keyakinannya memeluk agama Islam
disebut ?masuk Melayu?. Pemahanan ini semakin menguat  dan dijadikan
identitas kelompok sejak reformasi demokrasi di Indonesia, misalnya pada
saat pemilu lokal.

   Orang-orang Kalimantan yang disebut Melayu saat ini lebih merupakan
agregat dari komunitas-komunitas yang secara genetik dari asal-usul
garis keturunan sama atau berbeda, yang disatukan oleh tujuan-tujuan
sosial-politik sama, yang oleh perjalanan waktu dapat memiliki bahasa,
tradisi, dan keyakinan yang sama. Tujun sosial politik yang sama sengaja
diciptakan untuk lebih menguatkan identitas jatidiri kelompok atau kesukuan.

   Melalui perkawinan, pertumbuhan demografi, ekspansi dan migrasi lokal,
orang Melayu Kalimantan dapat terbagi menjadi beberapa daerah
kepemimpinan yang memiliki bahasa, tradisi, dan keyakinan yang sama.
Entitas-entitas kesukuan tersebut, meskipun terbatas, didorong oleh
hasrat kebutuhan politik lokal yang ada, memungkinkan penetapan
komunitas yang dianggap sah dan permanen oleh sistem pemerintahan maupun
negara. Warisan ini menghasilkan bentuk apa yang hingga saat ini disebut
orang Melayu di Kalimantan atau mungkin juga di tempat lain di Nusantara.


      *Perspektif Masa Depan*

   Abad sekarang disebut dengan abad globalisasi. Pada abad ini dan juga
mendatang, wilayah geografis manusia menjadi sangat tipis bahkan relatif
tidak tidak penting akibat kemajuan teknologi.  Seluruh informasi dan
budaya dapat menembus dimensi ruang dan waktu.

   Jika wilayah geografis tidak lagi menjadi ?penyaring? atau hambatan
untuk pilihan teknologi-budaya masyarakat orang Melayu. maka ?peradaban
vegetasi? itu akan mengalami hanyutan budaya, baik karena interaksi
global antara kelompok yang berdekatan dan berjauhan, maupun karena
migrasi budaya di suatu wilayah geografis.

   Kecenderungan ini setidaknya terjadi pada beberapa kata dalam bahasa
Melayu dan bahasa daerah lainnya di nusantara yang secara perlahan
mengalami kepunahan. Masyarakat Linguistik Indonesia pada Kongres
Nasional ke-XI tahun 2005 mengatakan bahwa sebanyak 726 bahasa daerah di
Indonesia terancam punah jika tidak diambil langkah yang tepat untuk
penyelamatan dan sekaligus akan mengancam warisan budaya nasional.

   Beberapa kata bendawi dalam bahasa Melayu yang dulu sering digunakan
misalnya /gantang, canting, cupak, /menjadi hilang dan digantikan dengan
ukuran dalam kilogram. Begitu juga kata seperti /hasta, jengkal, /dan
/depa /juga hilang dan digantikan dengan meter atau hektar. Penyebab
kepunahan bahasa tersebut disebabkan adanya kecenderungan masyarakat
mencari standarisasi, nasionalisasi, regenerasi, dan globalisasi.

   Kepunahan bahasa, merupakan salah satu akibat dari ?peperangan bahasa?
dunia. Menurut  para ahli bahasa dunia, tiap tahun 10 bahasa punah dan
6000 bahasa besar di seluruh dunia terancam punah. Satu bahasa akan
mampu bertahan jika didukung paling tidak oleh 100 ribu orang pemakainya.

   Kolonialisme menyumbang sekitar 15 % dari kepunahan bahasa selama ini,
dan yang paling dahsyat dari kecepatan punahnya bahasa-bahasa adalah
internasionalisasi pasar modal dan globalisasi informasi melalui media
masa, sehingga para ahli bahasa memperkirakan, 50 sampai 90 persen
bahasa yang digunakan dewasa ini akan punah juga di abad ini. Hal ini
menimbulkan kecemasan, termasuk ancaman bagi bahasa Melayu (Indonesia).
Kepunahan bahasa (Melayu) adalah juga kepunahan sejarah peradabannya.
Kalau kita berhenti menggunakan satu bahasa, misalnya bahasa Melayu,
maka kita kehilangan beberapa kemampuan natural dari bahasa tersebut.
Kita tidak akan mampu menyelidiki asal-usul bahasa manusia, atau misteri
?bahasa asli, bahasa awal?.

   Setiap kali satu bahasa lenyap, satu babak sejarah manusia juga
berakhir. Keragaman bahasa adalah pengejawantahan dari keragaman budaya.
Melenyapkan keragaman bahasa pada gilirannya akan merusak keragaman
budaya. Memaksakan satu bahasa tanpa diselaraskan dengan kebudayaan
masyarakat pemakai dan cara pandang mereka, akan melumpuhkan pola pikir
dan perilaku kolektif masyarakat.

   Sisi lainnya, punahnya satu bahasa identik dengan memusnahkan
keanekaragaman hayati. Hubungan keanekaragaman budaya dan keanekaragaman
hayati bersifat kausal. Seperti tanaman dan spesies tertentu,
bahasa-bahasa juga selalu berkaitan dengan kawasan tertentu.

   Di Kalimantan yang memiliki banyak keanekaragaman hayati, juga
menggunakan bahasa tertentu yang terkait. Karena, begitu mereka
menyesuaikan diri dengan lingkungan, mereka pun segera menciptakan
beberapa deretan pengetahuan tentangnya, yang tercermin dalam bahasa
mereka. Hanya melalui bahasa di masyarakat itu saja, kita dapat memahami
pengetahuan tersebut. Kalau mereka meninggal, maka dengan sendirinya,
pengetahuan tradisional mengenai lingkungan tersebut akan hilang.


      *Penutup*

   Meskipun kajian ini sedikit sederhana dari beberapa mosaik diatas dan
mestinya kedepan dibahas secara lebih mendalam. Setidaknya terdapat
beberapa kemungkinan mengenai jejak leluhur dan budaya masyarakat
Kalimantan:**

A.Masyarakat awal Kalimantan adalah dihuni oleh ras utama
Autroloid-Melanesia (Austroloid) yang berbahasa Proto-Melayu Polinesia
Barat dengan membawa budaya bendawi Neolitik yang berimigrasi dari
sebelah barat melalui Sumatra.

B. Masyarakat awal Kalimantan adalah dihuni oleh komunitas yang
bercirikan Mongoloid Selatan dari kelompok bahasa  Melayu-Polinesia
Barat dengan membawa budaya bendawi Autronesia awal yang berimigrasi
dari Formosa, melalui Filipina.

C.Masyarakat awal Kalimantan dihuni oleh komunitas dari variasi-variasi
genetik Austroloid dan Mongoloid Selatan yang berbahasa Melayu Polinesia
Barat dengan membawa budaya bendawi Neolitik yang berpusat di Mentawai
dan Nias sebagai ?lapisan dasarnya?.

   Pemahaman orang Melayu di Kalimantan, meskipun memiliki jejak leluhur
sama, bahasa dan budaya bendawi yang sama lebih cendrung dikelompokan
pada keyakinan agama (Islam) dan kebutuhan dalam kehidupan bermasyarakat
atau bernegara. Begitu juga pergeseran budaya Melayu akan semakin cepat
pada abad millennium dan globalisasi, jika semakin berkurang masyarakat
pendukungnya.

__________

*Ir. Gusti Kamboja, MH, *Raja Kesultanan Matan, Kalimantan Barat//

/Catatan: /Kertas Kerja ini Disampaikan dalam Workshop Internasional
Diaspora Melayu, tanggal 18 Januari 2010 di Balai Kajian dan
Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) Yogyakarta.

Sumber Gambar: Koleksi BKPBM

Tentang Mulia Kerta


Mulia Kerta adalah salah satu kelurahan di kecamatan Benua Kayong, Kabupaten Ketapang, provinsi Kalimantan Barat, Indonesia.
Istana Panembahan Matan di Mulia Kerta Ketapang merupakan salah satu istana era Kerajaan Melayu Islam yang tersisa di Kalimantan Barat.

Berdasarkan jejak sejarahnya, Istana Panembahan Matan merupakan pusat pemerintahan dari Kerajaan Matan-Tanjungpura yang sebenarnya kelanjutan dari Kerajaan Tanjungpura dari era Hindu yang pernah mempunyai nama besar di seantero Kalimantan.

Secara periodik, Kerajaan Matan-Tanjungpura yang berpusat di Mulia Kerta adalah kelanjutan dari Kerajaan Tanjungpura. Bermula di Sukadana Kabupaten Kayong Utara (KKU), Tanjungpura menuliskan peradabannya, sepanjang sejarah Tanjungpura yang berjalan semenjak kira-kira tahun 1431 M, sampai dengan tahun 1724 M, dengan Sukadana menjadi pusat pemerintahannya.

Ketika kerajaan Pontianak berdiri sebagai kota pelabuhan, Sukadana merupakan bandar pelabuhan perdagangan yang menjadi saingan sehingga perlu ditaklukan oleh Pontianak. Sehingga pada tahun 1876 terjadi Perang Sukadana dengan Pontianak.

Dalam perang ini Sukadana mengalami kekalahan, akhirnya pelabuhan dagang Sukadana ditutup. Sultan Akhmad Kamaludin memindahkan pusat pemerintahannya dari Sukadana ke Matan kemudian menghulu memindahkan pusat pemerintahan ke Indra Laya (Kecamatan Sandai), selanjutnya berpindah ke Karta Pura, Tanah Merah (Kecamatan Nanga Tayap).

Menghilir lagi ke sungai pawan dan mendirikan lagi pusat kerajaan di Desa Tanjungpura (masih di daerah Kabupaten Ketapang), lantas terakhir memusatkan pemerintahannya di Mulia Kerta sejak zaman Panembahan Gusti Muhammad Sabran sampai berakhir pada zaman pemerintahan Panembahan Gusti Muhammad Saunan.

Sebagai Kabupaten yang memiliki banyak jejak-jejak sejarah peradaban masa silam, sisa-sisa sejarah yang masih dapat ditemui di Ketapang selain Istana Panembahan Matan-Tanjungpura, di antaranya adalah Makam Keramat Sembilan di Desa Tanjungpura dan Makam Keramat Tujuh di Mulia Kerta, serta berbagai peninggalan lain seperti makam-makam dan reruntuhan bangunan kuno di Kecamatan Sandai dan Nanga Tayap.

Istana Panembahan terakhir dipergunakan sebagai pusat pemerintahan kerajaan pada zaman Panembahan Gusti Muhammad Saunan, dan menurut berbagai sumber, Panembahan terakhir inilah yang juga mendesain arsitektur Istana yang bentuknya masih dapat terlihat sampai sekarang ini.

Panembahan yang tidak meninggalkan keturunan ini menghilang dengan berbagai versi, ada yang mengatakan hilang karena turut menjadi salah satu korban pembantaian Jepang/Jepun pada tahun 1943 (pembantaian kaum cerdik-cendikia dan tokoh masyarakat Kalbar yang disebut juga dengan peristiwa penyungkupan).

È