Keanggunan istana yang mayoritas
konstruksi bangunannya terbuat dari kayu belian/ulin (euderoxylon zwageri) ini sudah dapat dilihat dan di rasakan
dari jauh. Warna kuning yang mendominasi bangunannya menjadikan istana tersebut
kian anggun dipandang mata. Dalam tradisi masyarakat Melayu, Warna kuning
merupakan lambang kewibawaan dan keluhuran budi pekerti.
Gapuranya
yang artistic dan cantik dengan dominasi warna kuning seakan memberi tanda
kepada pengunjung, bahwa istana ini di bangun dengan konsep yang matang dan
melalui serentetan perenungan yang mendalam,sehingga istana ini sarat dengan makna
filosofis. Gapura tersebut juga merupakan symbol keramahan segenap penghuni
istana dan sekaligus menandakan bahwa istana tersebut terbuka bagi semua
kalangan.
Suasana
sejuk dan damai sudah terasa begitu menginjakkan kaki di kompleks istana. Bunga-bunga
yang tertata rapi dalam jambangan dan
aneka pohon yang tumbuh di sekeliling istana memperlihatkan penghuninya punya
komitmen hidup selaras dengan alam.
Di
sebelah kiri jalan masuk, terdapat sebuah menara yang dahulunya berfungsi
sebagai pos penjagaan istana. Meriam padam pelita, salah satu senjata
peninggalan kesultanan, terdapat di halaman istana. Pada bumbungan atap bagian
depan istana, terpampang mahkota kerajaan yang berukiran detail dan artistic.
Di
ruangan dalam istana, terdapat balai pertemuan (balairung), kantor tempat kerja
sultan, dan tiga kamar yang dahulunya digunakan sebagai tempat tinggal sultan
bersama keluarganya. Berbagai koleksi istana, seperti singgasana sultan dan
permaisurinya, foto sultan dan keluarganya, kain tenun khas kerajaan, tempat tidur
Panembahan Gusti Muhammad Saunan, aneka batik kuno, serta benda-benda dan
peralatan peniggalan kesultanan Tanjungpura lainnya, tersimpan dengan baik di
dalam Istana.
Pada
sore hari, pengunjung akan berdecak kagum dengan pesona Istana Mulia Kerta yang
eksotik, apalagi dilihat dari atas perahu yang berjalan perlahan-perlahan di
atasi Sungai Pawan yang tenang

0 komentar:
Posting Komentar